Investasi Rp7 T Masuk Riau

Investasi Rp7 T Masuk Riau
Dua perusahaan asal Timur Tengah, Pacific Interlink dan Qatar Islamic Bank sudah membuat kesepakatan (agreement) untuk menanamkan modalnya (investasi) di Provinsi Riau sebesar 760 dolar AS (sekitar Rp7 triliun: kurs 1 dolar AS=Rp9.100).

Kesepakatan ini merupakan bagian dari hasil kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ke Timur Tengah. Lewat pertemuan, termasuk jumpa ”one on one’’ langsung dengan Presiden SBY, enam perusahaan terkemuka di Timur Tengah, termasuk dua perusahaan tadi, sepakat menanamkan investasinya di Indonesia. Total komitmen investasi itu mencapai 3 miliar dolar atau hampir Rp30 triliun.

Adapun dua perusahaan yang khusus akan berinvestasi di Riau, yakni Pacific Interlink akan membangun kilang minyak kelapa sawit di Kota Dumai. Pabrik yang akan mengolah produk CPO (Crude Palm Oil) dari perkebunan-perkebunan di Sumatera itu dibangun dengan investasi 500 juta dolar AS. Sedangkan Qatar Islamic Bank akan membiayai proyek listrik tenaga batu bara di Peranap Indragiri Hulu, Riau, dengan kapasitas 200 MW. Total investasinya sekitar 260 juta dolar AS.

Komitmen investasi itu dicapai dalam pertemuan antara SBY dengan 45 pengusaha Timur Tengah di Hotel Fairmont, Dubai, Uni Emirat Arab, Rabu (19/3). Saat itu, SBY didampingi, antara lain Kepala BKPM M Lutfi dan utusan khusus Presiden untuk Timur Tengah Dr Alwi Shibab, serta Ketua Kadin MS Hidayat.

Kunjungan ke Dubai merupakan rangkaian terakhir lawatan SBY ke empat negara sejak 11 Maret lalu. Sebelumnya presiden mengunjungi Iran, Senegal, dan Afrika Selatan. Kunjungan SBY ke negeri di kawasan Teluk itu murni bertemu dengan kalangan pebisnis. Alasan presiden sederhana, negara-negara di kawasan Teluk saat ini berlimpah dolar. Terutama, setelah harga minyak melonjak di atas 100 dolar per barel pekan ini.

Menurut SBY, berdasar data dari IIF (Institute of International Finance) saat ini terdapat 1,5 triliun dolar AS dana yang beredar dari negara-negara kaya minyak di kawasan Teluk. Yakni, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Qatar, dan Bahrain. Dari jumlah itu, 1 triliun dolar AS diinvestasikan ke negara masing-masing. Sekitar 300 miliar dolar AS diinvestasikan ke Amerika, 100 miliar dolar AS ke Eropa, dan 60 miliar dolar AS ke Asia.

‘’Saya ingin lebih banyak dana investasi itu juga masuk ke Indonesia,’’ kata SBY yang wajahnya saat itu tampak berseri-seri. SBY mengaku puas sukses melakukan negosiasi dengan para CEO perusahaan-perusahaan terkemuka itu. Dari 45 perusahaan, enam sudah mencapai kesepakatan (deal). Yakni, Emaar Properties, Pacific Interlink, Qatar Islamic Bank, Al Ghurair Group, Ras Al-Khaimah, dan Bin Ladin Group.

Emaar yang memiliki perwakilan di Jakarta sejak 2006 akan menanamkan investasi dengan membangun fasilitas wisata terpadu di Lombok Selatan. Proyek ini bekerja sama dengan PT Pengembangan Pariwista Bali. Total nilai proyeknya 600 juta dolar.

Al Khaimah yang sudah menandatangani MoU dengan Gubenur Sumatera Selatan akan membangun pelabuhan terpadu Tanjung Api-Api serta jalan kereta api Palembang-Tanjung Api-Api. Investasinya 1,3 miliar dolar AS.

Bin Ladin sudah melakukan kerja sama dengan PT Waskita Karya dalam menggarap proyek-proyek konstruksi di Timur Tengah, khususnya di Uni Emirat Arab. Setelah menggarap proyek 60 juta dolar AS, kini BUMN itu dapat proyek lagi senilai 160 juta dolar AS.

SBY mengakui, proyek-proyek ini tak bisa otomatis lancar. Perlu dukungan dari pemerintah, termasuk di daerah, terutama kemudahan birokrasi, agar investasi itu menjadi kenyataan. ‘’Saya minta para menteri dan pejabat di daerah mengawal proyek itu berjalan sehingga memberi manfaat bagi rakyat,’’ katanya.

Gubri Berharap Segera Terealisasi
Dikonfirmasi tentang kepastian investasi dari perusahaan Arab itu, Gubri HM Rusli Zainal SE MP mengakui bahwa dirinya sangat berterima kasih dengan pemerintah pusat, terutama kepada Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono dan Wapres Jusuf Kalla yang telah memberikan Riau kesempatan dan telah pula memfasilitasi Riau pada dunia usaha kawasan Timur Tengah itu. ‘’Riau menyambut antusias atas keberhasilan Bapak Presiden. Begitu juga kepada para investor dari Timur Tengah itu. Kita berharap investasi ini bisa segera direalisasikan,’’ ujarnya, kemarin (20/3).

Dijelaskan Gubri, upaya mendatangkan investasi itu sudah dilakukan Pemerintah Provinsi Riau sejak beberapa waktu lalu. ‘’Dua proyek itu memang sudah menjadi upaya prioritas kita. Bahkan, kita sudah menyampaikan surat resmi kepada Wakil Presiden. Surat itu merupakan jawaban surat resmi dari utusan resmi Indonesia untuk Timur Tengah, Pak Alwi Shihab, tentang pembangunan proyek listrik batu-bara di Peranap dan proyek biofuel kelapa sawit di Dumai itu,’’ tambahnya.

Surat Pemprov Riau itu, menurut Gubri adalah kelanjutan dari pembicaraan bisnis tentang upaya untuk mendatangkan investasi ke Riau. ‘’Ya, kita memang sudah menerima Pak Alwi Shihab beberapa waktu lalu dan membiacarakan tentang hal ini dan waktu itu, hal ini juga sudah langsung dilaporkan ke Presiden dan Wapres’’ ujar Gubri.

Selanjutnya, Gubri optimis bahwa proyek listrik Peranap dengan kapasitas 2 x 250 MW itu akan menjadi mega proyek yang bisa mengatasi krisis energi, bukan saja untuk Provinsi Riau namun juga untuk kawasan Sumatera dan negara tetangga. ‘’Alhamdulillah, semoga kedua proyek ini cepat direalisasikan,’’ kta Gubri lagi.***

-----------------------------------------------------
source: riaupos (el/uli)

Post A Comment
  • Facebook Comment using Facebook
  • Blogger Comment using Blogger
  • Disqus Comment using Disqus

No comments :


Berita Lainnya

[Berita][twocolumns]