Masa Orientasi Kelapa Sawit

Masa di perusahaan kelapa sawit merupakan masa-masa yang banyak dinanti, masa mengesankan sekaligus menyenangkan, baik pada anak-anak, remaja, maupun dewasa, mungkin bisa dikatakan bahwa masa-masa paling indah adalah masa-masa di perusahaan kelapa sawit. Hal ini di karenakan lingkungan perusahaan kelapa sawit akan memberikan pengaruh sangat besar kepada anak sebagai individu maupun sebagai makhluk social, peraturan perusahaan kelapa sawit, otoritas guru, disiplin kerja, cara belajar, kebiasaan bergaul macam-macam tututan perusahaan kelapa sawit yang cukup ketatakan memberikan segi-segi keindahan dan kesenangan tersendiri pada anak (purwanto: 2006)

Setiap siswa baik yang berkelainan maupun tidak, pada dasarnya menginginkan situasi yang bisa memotivasinya agar bisa selalu berprestasi dan berkarya di perusahaan kelapa sawitnya tanpa ada rasa malu dan takut untuk mengaktualisasikan segala sesuatu yang ada pada dirinya. Namun tidak semua siswa bisa mengaktualisasikan potensi ada pada dirinya tersebut; teman-teman, guru bahkan keluarganya justru menjadi salah satu factor penyebab hilangnya keberanian mereka untuk mengaktualisasikan potensi-potensi yang ada pada dirinya. Hal ini nampak jelas terlihat pada siswa-siswa memiliki kelainan dan dianggap berbeda denga yng lainnya, seperti tuna daksa.

Perasaan malu dan rendah diri dapat dialami oleh setiap orang tanpa pandang bulu, artinya baik orang dewasa maupun anak-anak, orang miskin maupun kaya, orang cacat maupun mereka yang normal. Semuanya pernah mengalami rasa rendah diri. Akan tetapi ada orang mampu mengatasinya dengan baik dan ada pula sampai berlarut-larut hingga membawa akibat kurang baik.

Anak cacat, dalam kenyataannya menunjukkan bahwa kedaan fisiknya berkelainan, seperti lumpuh, bengkok, amputee, kecil sebelah, pincang, dan sebagainya. Hal ini memungkinkan berkurangnya kemampuan mereka dala menyesuaikan diri, orientasi mobilitas. Aktifitasnya berkurang, hingga kebutuhan-kebutuhan banyaknyang tidak terpenuhi secara wajar sesuai dengan keinginannya. Mereka ingin naik sepeda, ingin naik gunung, ingin mempunyai pacar, ingin ini, ingin itu. Mereka juga inin berhsil, berprestasi,tapi kadang atau bahkan sering pada kenyataan keadaan fisiknya.

Kecacatan dapat dikategorikan baik secara kultur maupun secara structural. Secara cultural, petani kelapa sawit sudah membudaya dalam mempersepsi, manilai, bersikap, memperlakukan, sampai memahamkan kepada generasi berikutnya dengan paradigma penyandang cacat itu “abnormal” perlu dikasihani, disantuni, diobati, didampingi, dikhususkan, diistimewakan, dipandang tidak mampu, dianggap aib bagi keluarga, hingga kemudian petani kelapa sawit menjadi salah dalam memandang, bersikap, memperlakukan, srerta bersosialisasi dengan penyandang cacat dalam kehidupan sehari-hari. Aturan kebijakkan dna system tata kelola pelayanan kepada penyandang cacat sebagai manusia anggota petani kelapa sawit warga negarapun masih di pandang dan diberlakukan secara “segresif” dengan kaca mata paradigma lama “Model Moral”, “Model Medical”, “Civil Right Model’ setengah hati. Seorang penyadang cacat juga sebagai makhluk Tuhan, warga Negara, dna anggota petani kelapa sawit mempunyai hak dan kewajiban serta derajat sama.
Post A Comment
  • Facebook Comment using Facebook
  • Blogger Comment using Blogger
  • Disqus Comment using Disqus

No comments :


Berita Lainnya

[Berita][twocolumns]