Petani Sawit Minta Pemda Ikut Memantau Harga TBS Yang Ditetapkan Perusahaan Kelapa Sawit

Petani sawit di berbagai pelosok daerah meminta agar pemerintah daerah di seluruh Indonesia untuk bisa ikut serta dalam mengatur dan memantau penetapan harga Tandan Buah Segar (TBS) di pasaran. Hal ini agar para petani dapat memperoleh harga buah sawit yang menguntungkan dan tidak terlalu merugikan petani sawit itu sendiri.

"Salah seorang petani sawit yang bernama Dodon (40 tahun) yang tinggal di Kecamatan Sungai Sembilan Provinsi Riau, mengeluhkan selama ini harga TBS selalu ditetapkan oleh perusahaan sawit. Para petani hanya terima keputusan harga di lapangan saja dan tidak bisa berbuat apa-apa. Hal ini tentu merugikan petani sawit di saat panen.

pemda pantau penetapan harga tbs buah sawit

"Untuk itu kami berharap kepada pemerintah daerah untuk bisa ikut serta dalam menetapkan harga sawit yang telah ditetapkan perusahaan-perusahaan sawit, sehingga di saat panen, harga jual sawit sesuai dengan harga yang terjadi di pasaran dan para petani dapat memperoleh harga TBS yang adil sesuai dengan harga pasaran di saat itu," tegasnya.

Bila pemerintah daerah tidak ikut campur tangan dalam menetapkan dan mengawasi harga sawit yang telah ditetapkan perusahaan-perusahaan kelapa sawit, maka dikhawatirkan adanya dugaan permainan harga yang dilakukan oleh mafia dalam bisnis penjualan buah kelapa sawit ini.

"Oleh karena tidak ada campur tangan pemerintah daerah, maka pihak perusahaan kelapa sawit seenaknya memberikan harga. Hal inilah yang membuat para petani sawit menjadi khawatir dan selalu dalam tekanan," ujarnya.

Para mafia sawit melalukukan permainan harga yang menguntungkan pihak mereka sendiri dimana disaat musim trek tiba dan produksi kelapa sawit petani rendah, maka perusahaan kelapa sawit menaikan harganya. Sebaliknya disaat produksi kelapa sawit petani melimpah maka perusahaan sawit menurunkan harganya. Hal ini menyebabkan para petani sawit selama mereka bertani tidak pernah mendapatkan keuntungan lebih, baik disaat harga sawit tinggi maupun disaat jumlah produksi melimpah.

"Bagaimana bisa mengembangkan usaha menjadi lebih besar jika harga TBS selalu ditetapkan oleh perusahaan sawit sehingga petani tidak bisa berbuat apa-apa disaat para petani sawit menjual hasil panennya," tambahnya lagi.

Menanggapi keluh kesah para petani sawit ini, ketua Apkasindo Kota Dumai, Abdul Kasim mengatakan bahwa memang hal itu kerap terjadi di lapangan. Namun kami akan mencoba membicarakannya dengan pemerintah daerah setempat. Mudah-mudahan ada solusi yang terbaik dan menguntungkan para petani sawit kita," tutupnya.

Post A Comment
  • Facebook Comment using Facebook
  • Blogger Comment using Blogger
  • Disqus Comment using Disqus

No comments :


Berita Lainnya

[Berita][twocolumns]