Walaupun IPOP Dibubarkan, Perusahaan Sawit Tetap Komitmen CPO Ramah Lingkungan

Pasca dibubarkannya Indonesia Palm Oil Pledge (IPOP) oleh pemerintah RI, perusahaan-perusahaan besar yang dulu menjadi motor dibentuknya IPOP menyatakan akan tetap menjunjung tinggi prinsip sustainability dalam industri kelapa sawit di Indonesia. Kenapa? karena bubarnya IPOP tidak membuat perkebunan kelapa sawit di Indonesia otomatis meninggalkan prinsip sustainability. Ini yang perlu digarisbawahi.

Bagaimanapun, perusahaan-perusahaan besar yang dulunya tergabung dalam IPOP tetap melanjutkan komitmennya untuk terus mengimplementasikan kebijakan sustainability yang ramah lingkungan dalam industri kelapa sawit ini, mulai dari masalaha lahan sampai ke produksi Crude Palm Oil (CPO).

industri kelapa sawit indonesia yang berkelanjutan

Dan prinsip sustainability atau "prinsip berkelanjutan" ini tidak hanya berlaku di perusahaan sawit besar saja, namun para petani kelapa sawit turut juga mendukung dan terus mendapat support dari perusahaan besar sebagai pendamping para petani dalam industri ini.

Yang saat ini membedakannya adalah perusahaan menetapkan standarnya secara sendiri-sendiri, tidak berada di bawah satu wadah IPOP lagi. Hal itu disampaikan langsung oleh Togar Sitanggang, Senior Corporate Affairs Manager Grup Musim Mas. Menurutnya, pihaknya tetap mendukung penuh visi awal perusahaan yaitu menjadikan industri kelapa sawit di Indonesian yang berkelanjutan.

Perusahaannya juga mendorong para petani kelapa sawit untuk tetap ikut di dalam mata rantai yang terus terhubung dengan perusahaan. Dengan demikian, perusahaannya tetap membina para petani dan memastikan kalau minyak sawit yang dihasilkan bersumber dari lingkungan yang ramah dan berkelanjutan.

Menurut Togar lagi, sebelum bergabung dalam IPOP, setiap perusahaan kelapa sawit yang dulu menjadi anggota IPOP sebenarnya sudah memiliki kebijakan keberlanjutan masing-masing. Setiap perusahaan harus memenuhi standar ramah lingkungan seperti yang ditetapkan dalam standar IPOP. Tujuannya tidak lain adalah untuk mempertahankan daya jual kepala sawit Indonesia di pasar internasional.

Hal yang sama juga diamini oleh Master Parulian Tumanggor, Komisaris Utama PT Wilmar Nabati Indonesia. Ia mengatakan bahwa produk sawit yang ramah lingkungan, tetap menjadi syarat utama oleh konsumen CPO.

Oleh sebab itu sebenarnya IPOP bubar bukan atas dasar keinginan sendiri, melainkan karena keinginan pemerintah. Dan karena ini kebijaksanaan pemerintah, maka Wilmar tetap menjunjung tinggi pengembangan perkebunan kelapa sawit yang memenuhi standar-standar ramah lingkungan yang ditetapkan pemerintah tersebut.

Dan ia yakin bahwa pembubaran IPOP tidak serta merta membuat komitmen perusahaan yang dulu tergabung di dalamnya tidak peduli lagi dengan kelestarian lingkungan.

Post A Comment
  • Facebook Comment using Facebook
  • Blogger Comment using Blogger
  • Disqus Comment using Disqus

No comments :


Berita Lainnya

[Berita][twocolumns]