Pemerintah Akan Tegur Bekas Anggota IPOP Yang Tetap Bandel Dan Tidak Patuh Pada Aturan

Pemerintah melalui Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian Gamal Nasir menegaskan bahwa tidak ada lagi standar lain dalam industri kelapa sawit pasca Indonesia Palm Oil Pledge (IPOP) dibubarkan. Seluruh anggota IPOP harus melebur bergabung dengan  Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO). Bila masih ada bekas anggota IPOP yang tetap menerapkan standar yang lebih tinggi dari ketentuan yang telah ditetapkan ISPO, maka pemerintah tidak segan-segan memberikan teguran bahkan sangsi.

pemerintah tegur anggota ipop indonesia palm oil pledge

"Bila terbukti melanggar, ya tentu akan kami tegur. Kan ini sudah jelas, tidak ada lagi IPOP. Anggotanya sudah dibubarkan," tegasnya pada hari Selasa (12/7/2016). Saat ditanya bentuk teguran yang akan diberikan, Gamal mengatakan bahwa hal ini harus dirundingkan terlebih dahulu dengan pihak Kemenko Perekonomian.

Pasca dibubarkan pemerintah, enam perusahaan raksasa bekas anggota IPOP menyeluarkan pernyataan bahawa mereka akan tetap menerapkan kebijakan keberlanjutan perusahaan masing-masing secara interen, namun mereka tetap sepakat untuk patuh dan bersedia berkolaborasi dengan pemerintah.

Keenam anggota IPOP  tersebut adalah Wilmar International Limited, Golden Agri Resources, Musim Mas, Asian Agri, Astra Agro Lestari dan Cargill. Mereka menguasai 13% produksi minyak mentah sawit nasional (CPO) dan menguasai 1 juta hektare atau sekitar 20% dari total konsesi perkebunan kelapa sawit korporasi di Indonesia.

Direktur Asian Agri sendiri Freddy Widjaya menyatakan bahwa mereka tetap berkomitmen patuh dengan pemerintah sambil terus berpegang pada penerapan kebijakan perusahan akan sawit berkelanjutan untuk melindungi dan melestarikan lingkungan, memberdayakan petani plasma dan independen serta untuk mencapai 100% keterlacakan rantai pasok ke perusahaan mereka.

Sementar itu, Gamal menghimbau semua pihak agar tidak perlu gentar dan takut dengan tekanan internasional. Menurutnya, penerapan standar keberlanjutan yang sangat tinggi agar produk sawit laku di pasar dunia hanyalah wujud kegentaran terhadap tekanan negara lain. Dan ini tidak perlu terjadi.

"Kita tidak perlu takut oleh tekanan pihak luar. Lah kita nomor satu kok di dunia CPO-nya. Dijamin laku lah. Banyak yang butuh seperti Pakistan, India, Timur Tengah, banyak kok pasar kita yang lain. Jangan mau diatur dengan standar yang terlalu tinggi sehingga petani kita jadi menderita," ujarnya lagi.

-----------------------------------
source: http://industri.bisnis.com/

Post A Comment
  • Facebook Comment using Facebook
  • Blogger Comment using Blogger
  • Disqus Comment using Disqus

No comments :


Berita Lainnya

[Berita][twocolumns]