Waduh....!!! Harga CPO Anjlok 17%, Emiten Perkebunan Pontang-Panting

Tren kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pasca libur panjang ini terdongkrak oleh sentimen positif dari disahkannya UU Pengampunan Pajak (Tax Amnesty) oleh Pemerintah RI. Namun ternyata tren positif itu tidak berlaku pada sektor perkebunan. Malah pergerakannya justru tercatat mengalami penurunan. Lihat saja pada penutupan perdagangan Senin 11 Juli 2016 lalu, IHSG naik 1,9 % ke level 5.069,20, tetapi indeks sektor perkebunan justru anjlok 0,41 %; bingung kan....? Hal ini diikuti juga oleh sektor aneka industri yang juga terkoreksi 2,21 %.

penurunan harga cpo tahun 2016

Menurut para analis, fenomena pelemahan saham-saham emiten di sektor perkebunan ini sedikit banyak dipengaruhi oleh penurunan harga kontrak crude palm oil (CPO) yang diperdagangkan di bursa Malaysia. Penurun itu terjadi sebesar 17 % turun ke level RM 2.241 per metric tonne pada 8 Juli lalu, dimana sebelumnya berada pada posisi RM 2.620 per metric ton per akhir Mei 2016 lalu. Dan nilai inilah yang membuat para emiten perkebunan pontang-panting karena nilai ini merupakan nilai terendah selama sembilan bulan terakhir.

Terkait anjloknya harga minyak sawit mentah atau CPO akhir-akhir ini, para analis dari CIMB Securities yakni Ivy Ng dalam laporan risetnya tertanggal 10 Juli 2016 menyebutkan bahwa ada beberapa faktor yang berpengaruhinya. Faktor pertama adalah turunnya harga kedelai dan minyak kedelai dunia. Juga membaiknya cuaca di Amerika Serikat sebagai salah satu produsen kedelai terbesar di dunia sehingga hal ini mengurangi risiko rusaknya tanaman kedelai.

Hal tersebut dipicu lagi oleh pernyataan Departemen Pertanian AS yang memperkirakan luas lahan tanaman kedelai di negaranya akan bertambah. Selain itu, rendahnya harga minyak kedelai yang merupakan substitusi minyak kelapa sawit akan memaksa produsen sawit seperti Indonesia untuk memangkas harga jual produknya agar lebih kompetitif.

Faktor kedua adalah harga minyak mentah (crude oil) yang sudah lebih dulu turun sebesar 7 % dalam seminggu terakhir ini. Akibatnya memicu kekhawatiran akan berkurangnya permintaan terhadap biodiesel.

Menurut data Bloomberg, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) pada Senin kembali turun ke level $45 per barel setelah sempat menyentuh angka $50 per barel pada bulan sebelumnya.

Faktor penekan harga CPO ketiga adalah stok minyak kelapa sawit yang diperkirakan akan meningkat 4 % hingga 13 % di akhir Juli nanti. Penurunan harga CPO ini tentunya berdampak langsung pada produsen minyak sawit seperti Indonesia. Dari lima emiten perkebunan yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI), dalam sebulan terakhir empat di antaranya membukukan kinerja negatif, kecuali PT  Sampoerna Agro Tbk (SGRO) yang membukukan return 1,79 %. Harga saham keempat emiten lainnya tercatat anjlok lebih dari 3 %.

Dan pada penutupan perdagangan Senin, harga saham PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), sebagai emiten perkebunan dengan kapitalisasi pasar terbesar di BEI, justru merosot 2,42 % dibandingkan level sebelum libur panjang ini. (kd)

-----------------------------
source: http://www.bareksa.com/
Post A Comment
  • Facebook Comment using Facebook
  • Blogger Comment using Blogger
  • Disqus Comment using Disqus

No comments :


Berita Lainnya

[Berita][twocolumns]