Pabrik CPO Petani Di Kota Pelabuhan Sudah Menggeliat

Selama dua bulan terakhir, pabrik yang dikelola oleh Suparjan di kawasan jalan Harapan, Sukaramai, Bukit Kapur, Dumai, Riau, menjadi tujuan petani untuk mengatar berondolan (biji kelapa sawit).


Pabrik CPO Petani Di Kota Pelabuhan Sudah Menggeliat

Dalam sehari, Suparjan dan lima anak buahnya membeli tiga ton berondolan. Dalam hal ini, ia harus merogoh kocek sebesar Rp 4,5 juta.

Jika memang semua berondolan mempunyai jenis Tenera, maka bisa saja memperoleh minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) sekitar 1,5 ton.

"Tapi kalau sudah bercampur Dura, CPO yang dapat paling sekitar 1,2 ton atau 1 ton lah rata-rata. Soalnya kalau Tenera semua, rendemen yang dapat sekitar 50 persen, tapi kalau Dura, hanya sekitar 30 persen," cerita Suparjan.

Usaha yang dijalankan Suparjan tersebut masih sangat disayangkan, pasalnya terkendala sulitnya transportasi untuk membawa hasil CPO ke Kota Pelabuhan, Dumai.

"Dari tempat kami waktu itu ke Dumai, butuh waktu sekitar 4 jam. Sementara pembeli mau menjemput kalau produksi kami sudah 10 ton. Menunggu 10 ton, CPO sudah keburu asam, alhasil harganya akan sangat anjlok," imbuhnya.

Dengan kondisi yang demikian, Suparjan memberanikan diri eksodus ke Dumai. Pasalnya, satu ton perhari tersebut bisa langsung dijemput pembeli karena lokasi berdekatan.

Saat ini, dengan modal uang sebesar Rp253 juta, ia membangun tempat usaha beserta dengan peralatan.

"Alhamdulillah di sini lancar. Saya berani bikin usaha ini lantaran brondolan sering terbuang. Dengan adanya pabrik ini warga sekitar semangat. Brondolan jadi duit," lanjutnya.
Post A Comment
  • Facebook Comment using Facebook
  • Blogger Comment using Blogger
  • Disqus Comment using Disqus

No comments :


Berita Lainnya

[Artikel][twocolumns]